Langsung ke konten utama

Manajemen Kelas (3)

Nama : Salwa Rayyana

Kelas : PAI 4F


Manajemen Kelas

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Alhamdulillah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat untuk bisa meninggalkan jejak mengetik berupa tulisan di blog ini lagi.

Nah, pada kali ini saya akan berbagi hasil dari apa yang telah saya baca mengenai manajemen kelas untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber membaca saya yaitu buku yang berjudul “Manajemen Kelas”.

Sebelum saya membaca buku ini, berdasarkan pengetahuan saya, kata “manajemen” itu mirip dengan kata dalam bahasa Inggris yaitu "manage" yang memiliki arti "mengatur".Nah, berangkat dari kata "mengatur" ini, jika kita kaitkan dengan kata "kelas" maka dapat saya simpulkan bahwa "manajemen kelas" adalah "mengatur kelas". Saya masih bingung apakah benar pendapat saya tentang arti dari manajemen kelas ini benar atau kurang tepat. Saya berharap setelah membaca buku ini, saya akan mengetahui arti dari manajemen kelas dan juga hal-hal yang berkaitan dengan manajemen kelas seperti pengertian manajemen kelas, tujuan manajemen kelas, dan asas-asas manajemen kelas.

Baiklah langsung saja saya akan menceritakan kembali materi yang ada di buku ini. Dan untuk informasi mungkin saya akan membuat menjadi beberapa poin agar membuat kalian tidak bingung.


A. Pengertian Manajemen Kelas

Pada bagian pertama buku ini dipaparkan pengertian manajemen kelas dari berbagai pendapat para ahli.

Menurut buku dari H. Malayu S.P. Hasibuan yang diterbitkan pada tahun 2004, halaman 54 ialah : Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Menurut buku dari Syaiful Bahri, Djamarah yang diterbitkan pada tahun 2002 halaman 196 ialah : Kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan pembelajaran dari guru”.

Dari pendapat kedua tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu dalam suatu kelompok yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan pembelajaran dari guru.

Kemudian ada juga pendapat lain tentang pengertian kelas. Menurut Suharsimi Arikunto, kelas adalah “sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan guru yang sama”.(Syaiful Bahri,2002 :196)

Dari kedua pendapat di atas tentang pengertian kelas, keduanya sejalan karena mengemukakan pengertian kelas dari segi anak didik. Sedangkan menurut Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut yaitu kelas dalam arti sempit dan dalam arti luas. Kelas dalam arti sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Sedangkan kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Berdasarkan pengertian dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya kelas itu merupakan tempat berkumpulnya beberapa orang dalam satu ruangan yang bertujuan untuk melangsungkan proses belajar mengajar.

Jadi pada intinya, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar mengajar, dalam hal ini seperti peran seorang guru di dalam kelas atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal (efektif) sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan. Dalam manajemen kelas guru bertugas menciptakan, memperbaiki dan memelihara sistem atau organisasi kelas sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuannya, bakat, dan energinya pada tugas-tugas individual. Kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif, agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola sebaik-baiknya oleh guru. Sehingga manajemen kelas ini dapat dikatakan sebagai bentuk upaya mendayagunakan potensi kelas. 

Pada buku ini dipaparkan perbedaan antara konsepsi lama dan konsepsi baru tentang manajemen kelas. Menurut konsepsi lama manajemen kelas adalah sebagai upaya untuk mempertahankan ketertiban kelas. Sementara itu menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen kelas. Guru, menurut konsepsi lama , berugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem atau organisasi kelas sehingga individu dapat memanfaatkan kemampuannya, bakat dan energinya pada tugas-tugas individual.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis yang mengarah pada penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menciptakan atau mempertahankan kondisi yang optimal, dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.


B. Tujuan Manajemen Kelas

Pada bagian selanjutnya, buku ini akan memaparkan tujuan dari manajemen kelas. Secara umum manajemen kelas dimanfaatkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang dapat memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya.

Apakah kalian tahu bahwa penerapan manajemen kelas produknya harus dinamis sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu sebelum kita menerapkan manajemen kelas, kita harus mengetahui terlebih dahulu tujuan dari manajemen kelas. Adapun tujuan manajemen kelas yaitu : agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien; kemudian untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya;

Pada buku ini juga dijelaskan tujuan dari manajemen kelas menurut para ahli tokoh. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja kita simak pemaparan tujuan manajemen kelas berdasarkan pendapat dari para ahli tokoh.

Menurut Sudirman dkk, tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu meningkatkan proses belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi siswa.

Sedangkan Suharsini Arikunto, mengatakan bahwa tujuan manajemen kelas adalah “agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien”.

Nah dari penjelasan tujuan manajemen kelas berdasarkan pendapat dari Sudirman dan Suharsini Arikunto, dapat saya simpulkan bahwa tujuan manajemen kelas adalah untuk menciptakan kondisi suatu kelas menjadi lingkungan belajar yang baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai baik pula. Sedangkan tujuan manajemen kelas itu merupakan faktor demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Selain pendapat dari Sudirman dkk dan Suharsini Arikunto, juga dipaparkan pendapat manajemen kelas dari Ahmad. Menurut Ahmad bahwa tujuan manajemen kelas adalah untuk mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin; untuk menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar; untuk menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas; serta untuk membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.


C. Azas- azas Manajemen Kelas

Masuk ke materi selanjutnya yaitu tentang asas-asas manajemen kelas. Di dalam buku ini dijelaskan ada 9 asas dari manajemen kelas. Asas manajemen kelas terdiri dari asas apersepsi, asas peragaan, asas motivasi, asas belajar aktif, asas kerjasama, asas mandiri, asas penyesuaian dengan individu siswa, asas korelasi, dan yang terakhir itu ada asas evaluasi yang teratur.

Mungkin saya akan lebih merincikan secara detail materi tentang ke-9 asas tersebut agar kalian bisa lebih paham apasih maksud dari ke 9 asas tersebut. Baiklah tanpa berlama-lama lagi langsung saja masuk ke materinya.

 1. Asas Apersepsi 

Apersepsi berasal dari kata apperception (Inggris), yang berarti menafsirkan buah pikiran, menyatukan dan mengasimilasikan suat pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki dan dengan demikian memahami dan menafsirkanya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, apersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Pengetahuan (struktur kognitif) yang telah dimiliki siswa dapat digunakan untuk memahami sesuatu yang belum diketahui sehingga didapat sesuatu yang bermakna bagi siswa.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam apersepsi yaitu misalnya sesuatu diperlihatkan untuk memperdalam pengertian. Di sini guru yang terutama aktif (memberi) dan murid “Pasif” (menerima). Cara mengajar memberitahukan. Kemudian anak-anak diberi kesempatan untuk menghubungkan pengertian baru dengan pengalaman-pengalaman lama. Anak-anak di sini lebih aktif. Metode mengajar: Tanya Jawab, Pertanyaan. Di sini bahan baru itu ditempatkan dalam hubungannya dengan hal-hal lain. Ini hanya mingkin, jika bahan itu telah dipahami sepenuhnya. Metode: Menjelaskan, Ceramah. Lalu anak-anak mendapat tugas untuk dikerjakan. Guru memperbaiki dengan memberi petunjuk di mana perlu

 2. Asas Peragaan 

Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. Dengan peragaan diharapkan proses pengajaran terhindar dari verbalisme, yaitu siswa hanya tahu kata-kata yang diucapkan oleh guru tetapi tidak mengerti maksudnya. Untuk itu sangat diperlukan peragaan dalam pengajaran terutama terhadap siswa pada tingkat dasar.

Peragaan meliputi semua pekerjaan indera yang bertujuan untuk mencapai pengertian tentang sesuatu hal secara tepat, maksud dan tujuan peragaan ialah memberikan variasi dalam cara-cara mengajar, memberikan lebih banyak realitas dalam mengajar, sehinga lebih wujud, lebih terarah untuk mencapai tujuan pelajaran.

Peragaan merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif karena sangat menarik bagi siswa apalagi jika peragaan itu menggambarkan aktivitas yang sebenarnya. Asas peragaan menurut dapat diwujudkan dalam bentuk: (1) pengalaman langsung; (2) pengalaman yang diatur, (3) dramatisasi; (4) demonstrasi; (5) karyawisata; (6) pameran; (7) televisi sebagai alat peraga; (8) film sebagai alat peraga; dan (9) gambar sebagai alat peraga.

Penerapan asas-asas peragaan dalam kegiatan belajar mengajar, menyangkut beberapa aspek, seperti : penggunaan bermacam-macam alat peraga, meragakan pelajaran dengan perbuatan, percobaan-percobaan, membuat poster-poster, ruang eksposisi dan lain sebagainya, serta menyelenggarakan karya wisata.

Dasar psikologi penerapan asas peragaan tersebut yakni, suatu hal akan lebih berkesan dalam ingatan siswa bila melalui pengalaman dan pengamatan langsung anak itu sendiri. Ada dua macam peragaan: Peragaan langsung, dengan menggunakan benda aslinya atau mengadakan percobaan-percobaan yang bisa diamati oleh siswa. Peragaan tidak langsung, dengan menunjukkan benda tiruan atau suat model. Contoh: gambar, boneka, film, foto dan sebagainya.

 3. Asas Motivasi 

Motivasi bersal dari bahasa latin “movere”, yang berarti menggerakkan. Berdasarkan pengertian ini, makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah serta ketahanan pada tingkah laku tersebut.

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk perubahan perilaku. Motivasi belajar adalah proses yang member semangat belajar, arah, dan kegigihan perilaku. Dalam artian, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah, dan bertahan lama.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai edukator, guru juga bertugas sebagai motivator yang mendorong siswa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan belajar. Guru harus bisa memotivasi siswa agar memiliki semangat dan kemauan untuk lebih giat belajar.

Dalam hal ini motivasi belajar sangat berperan mendorong peserta didik mencapai keberhasilan belajar mereka. Keberhasilan yang diraihnya tentu akan menghasilkan kepuasan pada diri peserta didik. Oleh karena itu, arti penting keberhasilan belajar mendorong guru harus terampil mengembangkan strategi motivasi khususnya yang berkaitan dengan pencapaian belajar. Cara yang dapat dilakukan guru antara lain: menggunakan pujian secara verbal dan umpan balik yang informatif bukan ancaman atau sejenisnya; memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk segera menggunakan atau mempraktikkan pengetahuan yang baru dipelajarinya; meminta kepada peserta didik yang telah menguasai suatu keterampilan atau pengetahuan untuk membantu teman-temanya yang belum berhasil; serta membandingkan prestasi peserta didik dengan dirinya di masa lalu atau dengan suatu standar tertentu, bukan dengan peserta didik yang lain.

 4. Asas Belajar Aktif 

Siswa harus didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran yang dilangsungkan guru baik mental maupun fisiknya. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyerap kebermaknaan pembelajaran yang akan berguna bagi dirinya.

 5. Asas Kerjasama 

Model pembelajaran kerjasama adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Kerjasama menggambarkan makna yang lebih luas, yaitu menggambarkan keseluruhan proses sosial dalam belajar dan mencangkup pula pengertian kolaborasi.

Pembelajaran kerjasama merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil (small goup), yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen).

Yang dimaksud dengan kerjasama di sini adalah belajar atau bekerja sama (kelompok). Hal ini dianggap penting untuk menjalin hubungan sosial antara siswa yang satu dengan yang lainnya, juga hubungan guru dengan siswa.

Proses belajar mengajar harus memberikan kesempatan bagi siswa untuk berlatih bagaimana hidup dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi secara bersama-sama. Diharapkan siswa dapat menghayati makna kerjasama dan nantinya dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, karena siswa juga merupakan pelaku masyarakat yang sangat dituntut untuk dapat memajukan masyarakat secara bersama-sama.

 6. Asas Mandiri 

Guru sebagai fasilitator harus dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa agar siswa dapat memaknai pembelajaran secara mandiri. Masalah yang diajukan guru untuk diselesaikan oleh siswa harus sesuai dengan perkembangan usia dan kematangan siswa sehingga diharapkan secara bertahap siswa akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya tanpa bantuan orang lain.

 7. Asas Penyesuaian dengan Individu Siswa 

Siswa merupakan individu yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Setiap guru tentu menyadari bahwa menghadapi 30 siswa dalam satu kelas misalnya, berarti menghadapi 30 macam keunikan atau karakteristik. Perbedaan individu ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa.

Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainya, akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pembelajaran.[11]

Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua keunikan yang melekat pada tiap siswa, misalnya dengan menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya; merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran, mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan; dan memberikan remidiasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan.

Kemampuan tiap siswa dalam menguasai suatu materi pelajaran berbeda-beda,sehingga guru dituntut untuk mampu menyesuaikan iklim pembelajaran dengan kecepatan masing-masing anak. Guru perlu paham benar karakteristik masing-masing anak didiknya untuk dapat menciptakan pembelajaran yang adaptif dengan karakteristik semua anak didiknya.

 8. Asas Korelasi 

Yang dimaksud dengan korelasi disini adalah hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya yang berfungsi untuk menguatkan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, juga dapat menimbulkan minat dan perhatian siswa. Hendaknya guru juga menghubungkan pelajaran dengan realita sehari-hari. Karena dalam realitasnya, pembelajaran di sekolah masih banyak menggunakan strategi pembelajaran yang hanya berupaya untuk menghabiskan materi pembelajaran semata sehingga kurang memberi makna bagi peserta didik. Oleh karena itu, agar aktivitas pembelajaran mampu memberikan makna bagi peserta didik yang belajar, guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupa sehari-hari.

Ada tiga tahapan dalam pelaksanaanya, yang pertama tahap inisiasi, guru dapat menarik perhatian siswa dengan alat peraga, supaya kelas dapat memiliki topik, siswa dibentuk kelompok dan tiap kelompok diberi permasalahanya masing-masing; Kedua tahap pengembangan, pada tahap hal ini kelompok-kelompok diterjunkan langsung kelapangan untuk mencari sumber data untuk materi diskusi, laporan ditulis lengkap, para siswa diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif dan guru bertindak sebagai pedamping; dan ketiga tahap kulminasi, sebagai tahap akhir, setelah semua kelompok dapat menyelesaikan laporan yang mereka buat maka diadakan diskusi kelas atau diskusi panel, dan diharapkan para siswa dapat berperan aktif. 

Dapat disimpulkan bahwa, asas korelasi adalah mengaitkan pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran ataupun dengan pelajaran lain. Asas ini digunakan untuk dapat membuat suatu pokok bahasan lebih bermakna bagi siswa. Tidak jarang siswa melupakan apa yang telah diajarkan sebelumnya. Korelasi pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan lain misalnya dengan pokok bahasan yang sudah diajarkan akan membuat siswa mengingat kembali dan menemukan kebermaknaan pembelajaran dengan tepat. Misalnya untuk pokok bahasan perkalian dalam Matematika, guru dapat mengkorelasikannya dengan pokok bahasan penjumlahan yang sebelumnya sudah dikuasai siswa. Guru memfasilitasi siswa dalam pembelajaran untuk mengkaitkan hubungan antara pokok bahasan tersebut dan diharapkan siswa dapat menyerap makna pembelajaran tanpa melupakan apa yang sudah pernah dikuasainya.

 9. Asas Evaluasi yang Teratur 

Melakukan evaluasi terhadap proses belajar mengajar yang ditunjukan oleh kinerja siswa dalam belajar perlu dilakukan secara teratur dan berkesinambungan selama dan setelah proses belajar mengajar berlangsung.



Identitas Buku Sumber Bacaan 

Judul : Manajemen Kelas

Penulis : Afriza, S. Ag., M. Pd

Penerbit : Kreasi Edukasi

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-14957-5-9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Penggunaan Bahasa Sesuai EYD

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pada kesempatan kali ini, saya akan melakukan observasi (pengamatan) dari 10 spanduk yang berada di sekitar lingkungan rumah. Kemudian saya akan menganalisis penggunaan bahasa spanduk tersebut sesuai dengan EYD. 1. Tempat : Jl. Imam Bonjol Gg. Hj. Salmah Waktu : 27 September 2019 pukul 07.26 WIB Analisis : Penulisan kalimat di atas tidak efektif dan kurang tepat. 1. Seharusnya kalimat tersebut diakhiri dengan tanda seru (!) karena kata "dilarang" mengandung ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah. 2. Seharusnya kata "buang" menggunakan imbuhan me-. Imbuhan me- dapat dibubuhkan sebuah kata dasar yang menyatakan pekerjaan. Imbuhan me- dapat memperkuat makna dari kata-kata dasar yaitu sedang melakukan pekerjaan. Ketika awalan me- bertemu konsonan b menjadi mem-. Contohnya : me + buang = membuang. Referensi : 1. Buku EYD penerbit Lembar Pustaka Indonesia bagian Pemakaian Tanda Baca halam...

Muhasabah

  ๐Ÿ•Œ๐Ÿ’• TODAY's MUHASABAH ๐Ÿ’•๐Ÿ•Œ Bukan kesabaran jika masih mempunyai batas. Bukan keikhlasan jika masih merasakan sakit " Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. " " Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. " " Saat ajakanmu dalam kebaikan terabaikan, lelahmu akan menjadi hiasan di taman Surga-Nya. " " Saat engkau menangis atas perihnya perjuanganmu, Allah tak lalai menghitung setiap tetes air matamu. " " Saat orang lain meninggalkanmu, Allah akan selalu ada bersamamu. " Bersabar saat menemui cobaan, bersyukur untuk semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, dan ikhlaskan semua hal yang pernah terjadi, baik atau buruk, siapkan diri untuk membuka lembaran baru dan fokus dalam perbaikan diri. ๐Ÿ’Œ Percaya bahwa akan ada keindahan di penghujungnya nanti, asalkan cinta illahi senantiasa mengiringi, InsyaAllah kita akan terus sabar dan ikhlas dalam menghadapi apapun. Allah S...

Kompetensi Profesional Guru (4)

Nama : Salwa Rayyana Kelas : PAI 4F Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan ke kalian apa sih kompetensi profesional guru itu dan apa aja sih yang termasuk dalam kompetensi profesional guru. Bagi kalian yang akan menjadi seorang guru, ini wajib kalian baca sampai habis !!! Agar kalian bisa menjadi seorang guru yang profesional, no abal-abal !!! Kompetensi Profesional Guru Guru memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pendidikan, oleh karena itu diperlukan keprofesionalan dalam melaksanakan fungsi dan peranannya dalam proses pembelajaran. Guru dituntut untuk selalu mengembangkan kompetensinya dalam mendidik, mengarahkan dan membimbing peserta didik.  Kompetensi guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, orang yang terdidik dengan baik, serta memiliki pengal...