Nama : Salwa Rayyana
Kelas : PAI 4F
Kultur Sekolah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
Alhamdulillah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat untuk bisa mengetik di blog ini setelah sekian lama menghilang ;)
Nah, pada kali ini saya akan melaporkan/berbagi hasil membaca saya mengenai kultur sekolah untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber membaca saya yaitu skripsi yang berjudul “Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Pembentukan Karakter Siswa di Sekolah Dasar (SD) Plus Rahmat Kota Kediri”.
Sebelum saya membaca skripsi ini, kata “kultur” yang ada di pikiran saya itu pasti tidak jauh-jauh dari kata “budaya”. Saya pun mulai mengaitkan antara kata “budaya” dan “sekolah”. Dalam benak, saya mulai bertanya-tanya apakah benar kultur sekolah itu maksudnya adalah budaya sekolah. Saya berharap setelah membaca skripsi ini, pertanyaan yang ada di dalam benak saya akan terjawab.
Baiklah langsung saja kita langsung masuk ke intinya.
Pada saat pertama kali membaca buku ini, mata saya langsung mencari tentang pengertian dari kultur. Para ahli masing-masing mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian kultur. Nah, dari berbagai pengertian kultur dari para ahli, dapat saya tarik kesimpulan bahwa kultur adalah suatu pola-pola dasar yang unik, kompleks, dan mencakup berbagai nilai, norma, sikap, kebiasaan, tradisi, keyakinan yang dipercaya atau dipegang secara bersama-sama dan akan digunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan sehingga kita dapat menentukan bahwa bagaimana suatu kelompok masyarakat itu akan berperilaku dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi pada lingkungan yang ada.
Setelah mengetahui pengertian dari kultur itu sendiri, saya mulai membaca pengertian dari kultur sekolah. Nah.. dari berbagai macam perbedaan pendapat yang saya baca tentang pengertian kultur sekolah ini, maka dapat saya tarik kesimpulan bahwa kultur sosial adalah pola unik dan kompleks dari berbagai nilai-nilai, norma, harapan-harapan bersama, gagasan, kebiasaan, dan tradisi yang telah dikembangkan bersama oleh warga-warga di sekolah (seperti para guru, siswa, staf administrasi, dan orang tua siswa) dengan tujuan untuk menghadapi dan memecahkan suatu masalah di lingkungan sekolah sehingga mereka dapat mengatasinya dengan baik dan benar.
Pada skripsi ini juga disebutkan bahwa kultur sekolah adalah budaya sekolah. Secara tidak langsung sudah terjawab pertanyaan yang ada di dalam benak saya tadi
Oke lanjut yaa..
Kultur sekolah atau budaya sekolah ini dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan warga di sekolah. Dan setelah membaca jurnal ini, saya baru tau bahwa pengaruh ini bersifat positif dan ada juga ternyata yang bersifat negatif. Dari kalimat ini, tingkat kekepoan saya mulai muncul dan mulailah benak saya kembali bertanya-tanya mengapa kultur sekolah ada pengaruh negatifnya? apa saja contoh dari pengaruh negatif ini? dll. Setelah membaca bagian ini sampai tuntas, akhirnya sedikit demi sedikit pertanyaan saya mulai terjawab.
Jadi, kultur sekolah ini bersifat dinamis sehinggga muncul kultur yang memberi pengaruh positif (kultur positif) dan kultur yang memberi pengaruh negatif (kultur negatif).
Aktivitas siswa di sekolah pasti tidak akan bisa lepas dari kultur sekolah, baik itu pada proses bersikap, memandang, bahkan dalam berfikir. Setiap sekolah pasti mengharapkan mutu kehidupan siswanya yang baik dalam sudut pandang etika maupun agama. Nah, kultur positif ini akan memberikan peluang kepada sekolah beserta warga sekolahnya untuk membentuk atau meningkatkan kemampuan dan kecerdasan siswanya, baik itu kecerdasan intelektual maupun kecerdasan spiritual.
Nah, dari penjelasan saya diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kultur positif adalah budaya yang dapat membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warga sekolahnya. Intinya nih, kultur positif akan memberikan pengaruh positif terhadap sekolah. Dari kalimat tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa kultur positif akan memberikan pengaruh negarif terhadap sekolah. Lalu bagaimana suatu kultur bisa memberikan pengaruh negatif? Nah, kultur yang dapat berpengaruh negatif terhadap sekolah adalah budaya yang bersifat negatif, anarkis, beracun, dan dominatif. Contoh dari kultur negatif ini misalnya suatu sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kecerdasan intelektual dan mengabaikan kecerdasan spiritual siswanya.
Selain kultur positif dan negatif, kultur juga dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu kultur yang dapat dilihat dan kultur yang tidak dapat dilihat. Pasti penasaran kan apa saja kultur yang dapat dilihat dan apa saja kultur yang tidak dapat dilihat. Sama saya juga pada awalnya sangat penasaran, tapi setelah membaca jurnal ini semua rasa penasaran saya bisa terobati. Baiklah langsung saja kita langsung kupas inti dari pembahasan ini.
Kultur yang bisa diamati atau dilihat oleh mata ini dapat berupa arsitek gedung, tata ruang, desain ekserior sekolah, desain interior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita, kegiatan upacara, ritual, simbol-simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar yang dipasang, tanda-tanda yang dipasang, sopan santun, cara berpakaian warga sekolah (seperti : kepala sekolah, guru, staf administrasi, siswa, dll). Nah, sekarang kita lanjut masuk ke pembahasan kultur yang tidak bisa diamati atau kultur yang tidak bia dilihat oleh mata. Mengapa kultur ini tidak dapat diamati? Karena kultur ini terletak dalam kehidupan bersama sehingga tidak dapat dimaknai dengan segera. Kultur jenis ini dapat berupa norma-norma perilaku, cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki dan diterapkan oleh warga sekolah. Nah, kultur pada jenis ini sangat sulit bahkan sangat kecil kemungkinan untuk diubah dan misalnya bisa diubah sedikit saja, maka itu akan memerlukan waktu yang sangat lama.
Nah, setelah membaca skripsi ini saya dapat mengetahui bahwa kultur sekolah berpotensi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun-temurun. Jadi, kultur sekolah ini sifatnya historis dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolahnya (seperti : kepala sekolah, guru, staf administrasi, siswa, dll).
Jika kita tinjau dalam sudut pandang dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, kultur sekolah dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif, dan terakhir yaitu kultur sekolah yang netral.
Baiklah langsung saja saya akan menjelaskan secara ulang apa yang telah saya dapatkan dari membaca skripsi ini. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa kultur sekolah yang bersifat positif ini adalah budaya sekolah yang membantu untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah dan mutu kehidupan bagi warga sekolahnya, misalnya seperti kerjasama dalam mencapai prestasi, tidak hanya prestasi dalam segi intelektual tetapi juga dalam segi spiritualnya. Kemudian ada kultur sekolah yang bersifat negatif. Kultur ini memberikan pengaruh yang negatif terhadap sekolah karena budaya atau kebiasaannya kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan sekolah dan mutu kehidupan bagi warga sekolahnya. Contohnya seperi apatis terhadap aturan sekolah dan jarang melakukan kerja sama, dll. Terakhir, ada kultur sekolah yang netral. Kultur ini adalah budaya yang tidak hanya berfokus pada satu sisi namun juga dapat memberikan pengaruh yang positif dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah dan mutu kehidupan bagi warga sekolahnya. Contoh kegiatannya seperti arisan kelurga sekolah yang dapat meningkatkan rasa kekeluargaan satu sama lain; pengadaan seragam guru, staf dan siswa yang dapat meningkatna rasa kekompakkan satu sama lain.
Intinya dari semua pengelompokkan kultur di atas, pada hakikatnya kultur sekolah tidak bersifat statis, tetapi bersifat dinamis. Kultur sekolah ini merupakan sebuah kebiasaan dan keyakinan yang telah terimplementasi dalam setiap kegiatan di sekolah yang menuntut ketelibatan dan tanggung jawah dari warga sekolahnya dalam upaya untuk meningkatkan kualitas atau mutu sekolah.
Nah, kultur sekolah dapat dilihat atau dilacak pada unsur-unsur yang tampak dalam mewujudkan rumusan yang mutalak uang tercantum di dalam visi dan misi sekolah, tujuan sekolah, kurikulum sekolah, dan struktur organisasi sekolah. Kemudian media yang tampak untuk memahami kultur sekolah ini seperti perwujudan perilaku yang nyata dalam aktivitas belajar mengajar (contohnya : tertib, disiplin, dan prestasi belajar yang tinggi); loyalitas dan ketaatan terhadap regulasi; kejelasan dan ketegasan feedback yaitu dapat berupa hadiah atau sanksi; ketersediaan sarana dan prasarana sekolah; ketersediaan fasilitas dan perlengkapan sekolah yang memadai; dan keteraturan dalam mengenakan atribut sekolah atau seragam sekolah.
Selanjutnya kita akan berpindah ke faktor-faktor yang mempengharuhi perkembangan kultur sekolah. Sebuah kultur sekolah pasti memiliki faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan atau bahkan penciptaan dari kultur sekolah tersebut. Dalam pengembangannya, kultur sekolah dapat terbentuk karena adanya faktor internal dan juga faktor eksternal. Kedua faktor ini memiliki pengaruh yang sama-sama sangat kuat.
Di dalam skripsi ini sudah dijabarkan apa-apa saja yang termasuk ke dalam faktor internal maupun faktor eksternal. Setelah saya membaca jurnal ini, dapat disimpulkan bahwa faktor internal adalah faktor yang bersumber lingkungan sekolah itu sendiri seperti sistem di sekolah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah visi dan misi para pendiri lembaga atau organisasi yang dipengaruhi oleh nilai yang terkandung di dalam hidupya, latar belakang sosialnya, lingkungan diamana mereka dilahirkan dan dibesarkan, serta jenis dan tingkat pendidikan formal maupun non formal yang pernah ditempuhnya. Selain itu juga terdapat faktor dari sudut pandang aspek-aspek lembaga pendidikannya , yaitu seperti tenaga pengajar (guru), staf administrasi dan pengelolaan administrasinya, manajerial dan lingkungan yaqng ada di dalam lembaga itu. Selanjutnya kita akan masuk ke faktor eksternal. Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar lingkunagn sekolah. Dalam hal ini dapat berupa globalisasi dunia seperti perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dalam globalisasi dunia yang berkembang semakin hari semakin pesat, sehingga hal ini akan menimbulkan dampak yang sangat begitu kuat terhadap berbagai bidang yang ada di dalam kehidupan, termasuklah salah satunya yang terkena dampak ialah dalam bidang pendidikan.
Jadi kesimpulannya, pendidikan ini merupakan proses internalisasi kultur ke dalam individu dan warga sekolah lainnya sehingga dapat dikatakan sebagai budaya atau kebiasaan. Dan paling penting yang harus kita ketahui bahwa pendidikan bukan hanya sebagai sarana untuk transfer ilmu pengetahuan saja, namun juga bisa sebagai sarana pengkulturan dan penyaluran nilai.
Sekian laporan hasil membaca saya. Apabila ada salah dalam penulisan mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sumber Bacaan
Skripsi : Pengembangan Kultur Sekolah dalam Pembentukan Karakter Siswa di Sekolah Dasar (SD) Plus Rahmat Kota Kediri
Penulis : Lutfiya Qomaril Uyun
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Komentar
Posting Komentar